Shine…
Waktu pertama kali terkena polio, aku masih
bisa berlari dan berjalan tanpa memegangi kaki kiri atau memakai
bantuan tongkat. Namun, karena kaki kiri ini sangat lamban sekali
perkembangannya sedangkan tubuhku terus bertumbuh, sehingga tidak kuat
menopang badanku. Beberapa kali orang tuaku bahkan tetangga memberikan
tongkat untuk alat bantu berjalan tapi aku tidak mau memakainya. Selain
sakit pada pangkal bahu, sering kali teman bahkan keluarga mengejek.
"Awas mak lampir datang!", kata mereka ketika mendengar suara ketokan
tongkatku. Terus terang waktu itu aku masih belum tebal telinga, jadi
aku putuskan untuk tidak memakai walaupun sebenarnya aku butuh.
Suatu hari kakak perempuanku membeli sepatu berhak tinggi. Aku
mencobanya dan kelihatan cocok sekali, sayangnya hanya kaki kanan yang
cocok, kaki kiri yang kecil dan lemah ini tentu saja tidak bisa
memakainya. Sempat terucap dari beberapa orang di sekitarku waktu itu,
"Coba kamu tidak cacat ya, pasti bisa memakainya". Aku hanya bisa mesem
(tersenyum kecil) dan bermimpi … kapan ya aku bisa memakainya?
Ini mimpi masa kecilku yang lain, berkaitan dengan kesukaan. Aku
suka sekali bertamasya, ke pantai atau ke pegunungan. Walaupun aku
berasal dari daerah pegunungan, tapi tetap saja aku suka alam
pegunungan. Sering kali sekolah, kampus, bahkan kampung di mana aku
tinggal mengadakan tamasya ke pantai. Sayangnya aku tidak bisa berjalan
di atas pasir. Pernah juga memaksakan diri untuk menyentuh air laut,
yang aku dapatkan malah kaki kiri berdarah. Aku harus setengah mati
sampai ke tepi pantai yang pasirnya keras, agar tidak terperosok ketika
menginjaknya. "Cukup sekali!", batinku. Aku tidak akan lagi menyentuh
laut kalau pergi ke sana. Akhirnya, aku sering hanya menjadi penjaga
barang teman-teman kalau kami bertamasya ke laut. Aku bermimpi lagi,
kapan aku bisa bermain air laut kalau aku ada kesempatan pergi ke
pantai lagi.
Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya, Dia mengijinkan
mimpi-mimpi itu menjadi sebuah kenyataan. Tuhan memang baik. Lewat
seseorang — yang tidak mau disebut namanya, yang memberikan gaji
pertamanya untuk membelikanku sebuah tongkat yang cukup nyaman (tidak
menyakiti pangkal lengan) dan sangat menolongku ketika berjalan. Jika
diceritakan bagaimana aku mendapatkan tongkat tersebut, akan sangat
panjang dan penuh dengan kejutan. Tongkat itu membuatku dapat berjalan
lebih jauh, tanah yang aku injak pun terasa lebih rata.
Pada 28 Desember 2006 yang lalu, pertama kali dalam hidup aku bisa
membeli sepasang sepatu pesta berhak tinggi. Aku sudah sangat ingin
memilikinya waktu itu. Namun, ketika mencobanya dan berjalan tanpa
tongkat, aku terjatuh dan sempat terucap bahwa aku tak mungkin
memakainya, biarlah menjadi pajangan saja. Tapi setelah aku mengambil
tongkat dan berjalan. "Hore! Aku bisa memakainya!". Aku perlihatkan
kepada ibu dan meyakinkan kalau aku benar-benar bisa memakai sepatu hak
tinggi itu, meski aku harus sangat hati-hati ketika memakainya. Mereka
juga senang melihatnya.
Hari-hari penuh kejutan belum juga berakhir. Tahun baru 2007 ini,
aku pergi ke pantai Siung, Gunung Kidul. Bayangkan, aku bisa berjalan
menyusuri pantai sambil bermain air, mengumpulkan kerang, mengambil
rumput laut, dan bergandengan tangan dengan temanku. Hal ini juga
pertama kali dalam hidupku bisa berjalan di tepi pantai dengan nyaman
dan menikmati semua hal yang aku impikan sejak kecil.
Tongkat yang kuceritakan ini aku beri nama Shine, karena tongkat itu
seperti cahaya bintang kecil yang menemani malamku. Ada stiker buluk
bertuliskan "Don’t be Afraid! JUST BELIEVE". Kata-kata itu juga memberi
kekuatan dan semangat buatku. Banyak petualangan baru yang aku lakukan
dan dapatkan bersama Shine. Bersama dia aku juga merasa aman, contohnya
ketika aku harus naik-turun bus. Sering kali kalau kondektur bus
melihatku naik atau turun bus, dia akan bilang kepada sopirnya "Kalem,
kalem, orang sakit atau kalem … anggur — anggur cap Orang Tua alias
orang tua. Walaupun sebenarnya aku tidak suka disebut anggur, yang
penting aku aman, dengan bantuan Shine.
Shine juga mengingatkanku akan penyertaan Bapa di surga. Shine
selalu ada ketika aku membutuhkannya, bahkan ketika aku tidak
memakainya, Shine tetap ada dengan setia di sisi ku. Seperti juga Bapa
yang selalu ada untuk aku, kapan pun dan di mana pun aku berada. Selain
itu, Shine mengajarkanku untuk tidak takut. Karena dia bisa aku gunakan
untuk memukul orang yang kurang ajar sewaktu di terminal (he … he …
maaf, ini contoh kurang baik).
Akhir dari kisah ini, aku ingin menyatakan sekali lagi, betapa Allah
sungguh mengasihi aku, mengasihi kita — anak-anak-Nya. Dengan cara
yang unik Dia memberikan kejutan yang menyenangkan dan terbaik bagiku,
bagi Anda juga tentunya. Penyertaannya pun tiada berkesudahan.
Terpujilah Tuhan sekarang sampai selama-lamanya. Amin.